Pages

Ads 468x60px

Minggu, 06 April 2014

Bukan Alamku

    Aku telah sering melakukan perjalanan. Profesiku sebagai seorang sopir, membuatku jarang berada di rumah.  Kadang pagi-pagi sudah harus berangkat.  Meski dingin bahkan hujan ataupun badai, Aku tetap harus pergi. Memenuhi carteran dari pelanggan. Aku tinggal di Kalimantan Tengah, tepatnya di 'Kapuas'. Rumahku yang berada di pinggiran kota., membuatnya tak pernah sunyi dari lalu-lintas kendaraan. Oleh karena itu, selain menjadi sopir. Aku juga membuka usaha 'toko busana muslim' tepat di depan rumahku. Yang kini Istri dan anakkulah yang mengelolanya.
**
    Pagi itu Aku bergegas pergi karena ada rombongan dari Martapura minta diantarkan ke Amuntai.  Mobilku penuh dengan penumpang.Sepanjang perjalanan Alhamdulillah aman-aman saja. Dari Martapura tiba di Amuntai sekitar 5 jam perjalanan. Karena ada berbagai kemacetan yang melintang.
    Sesampai di Amuntai, pelanggankupun turun tepat di rumah keluarganya.  Seperti ada acara perkawinan seseorang di tempat ini. Semua keluarga berkumpul dengan ramainya.
    Setelah mengantar mereka. Akupun beranjak pergi ke sebuah desa yang tak jauh dari rumah pelangganKu tadi, di mana di situ ada kuburan orang tuaku. Dan dulu Aku lahir di sini, namun setelah menikah Aku menetap di Kapuas. Mumpung ke sini maka kusempatkan untuk mampir, sekalian bersilaturrahim dengan keluarga yang ada di sini.
**
    Tepat selesai sholat Isya, Akupun pergi dan tak lupa berpamitan dengan keluarga yang ikut mengantarku hingga kemobil.  Mobilku yang tadi ketika datang kesini rame, penuh dengan penumpang. Kini telah sepi hanya Aku dan kursi-kursi mobil yang setia menemani perjalanan.
    Sesampai di sebuah perkampungan, tiba-tiba hujan turun, airnya membasahi mobilku yang terus melaju. Jalanan terlihat sepi dari pengendara roda dua.  Hanya mobil-mobil yang sesekali ada, berlawanan arah dengan mobilku.
    Hujan itu kini semakin lebat, gemuruh guntur menggelega di mana-mana. Kilatpun menyambar-nyambar penuh keganasan. Rasanya aku ingin singgah saja untuk sekadar berteduh. Namun tentunya itu akan memperlambat perjalananku, dan malam kian berlalu. Andai saja sekarang siang, tentu Aku lebih memilih berteduh. Akan tetapi ini, malam hari dan jarak tempuh masih amat jauh.
    Samar-samar kaca mobilku terciprat air hujan. Meski terus disapu oleh sapuan kaca otomatis. Tetap saja airnya mengaburkan pandangan malamku terhadap jalan. Namun karena sudah terbiasa dengan hal ini.  Akupun terus melaju bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Melihat keadaan sepi membuatku semakin bernafsu untuk lebih meninggikan laju mobil ini.
**
    Aneh, seketika memasuki perkampungan lagi. Tiba-tiba langit cerah begitu saja. Akupun kembali memperlambat jalan mobilku. Bahkan sempatku hentikan jalannya. Sekadar menyaksikan bahwa gemuruh guntur dan kawan-kawannya telah benar-benar hilang. Bekas hujanpun tak nampak di sekitar alam di sini. Setelahku buka jendela mobil melirik kiri dan kanan. Sungguh tiada bekas hujan sedikitpun. Padahal begitu lebatnya air yang turun tadi sungguh tak terbendung.
"Cepat sekali ya teduhnya." Gumamku keheranan.
"Mungkin tadi, sebagian bumi saja yang hujan." Pikirku lagi.
    Laju kendaraanpun kembali kunaikkan mengejar waktu perjalanan jauh ini. Namun aneh, tiba-tiba perjalanan yang sedari tadi sepi, kini menjadi ramai. Bakhan sangat-sangat ramai. Mobil-mobil yang berlalu memenuhi hamparan jalan. Tak terhitung lagi banyaknya mobil yang melintasi di sini.
"Apa Aku sudah di Banjarmasin." Pikirku dalam hati.
    Tapi, Perasaan terlalu cepat kalau sekarang aku sudah di Banjarmasin. Lirik mataKu pun tertuju pada jam tangan yang sedari tadi bersamaKu. Nampaknya masih pukul 09:00.  Ternyata Aku baru melakukan perjalanan satu jam dari Amuntai. Dan tak mungkin kalau sekarang Aku sudah di Banjarmasin. Karna semua itu kan menghabiskan waktu 4 jam perjalanan, dan paling cepatpun 3 jam perjalanan. Tapi ini baru satu jam. Ah, meski semua terasa tak seperti biasa namun segala pikiran buruk dalam benakKu, segera kusingkirkan dan kembali menarik gas mobilKu melaju mengikuti jalan-jalan raya.
    Cerah sekali cuaca saat ini. Kulihat alam sekitar sungguh tiada yang basah sedikitpun. Bahkan mobil-mobil yang mendahului mobilKu tidak nampak tanda-tanda bekas diterpa oleh guyuran hujan. Seolah Hanya mobilku yang masih belocotan air membasahi perawakannya di tempat ini.
    Aku melirik keberbagai penjuru, rumah-rumah yang kulewati sangat kokoh sekali. Semuanya di bangun dengan beton yang gagah perkasa. Bangunan yang Ku yakin takkan retak meski ditimpa gempa yang dahsyat. Selain itu rumah-rumah sekitar terlihat bersih dan bercatkan warna yang cerah. Lampu-lampu hias pun berjenjer dimana-mana. Rumah demi rumah, gedung demi gedung kulewati. Semakin jauh perjalananKu semakin indahpula rumah yang berderet di samping jalan raya ini.
"Perasaan, Aku belum pernah melewati jalan ini sebelumnya," batinku meratap.
    Semakin jauh perjalananku semakin lambat pula perputaran roda empat mobil ini Ku jalankan. Bukan karena sengajaku perlambat, melainkan karna padatnya arus lalu-lintas yang menghalang. Kudengar bunyi-bunyi klakson kendaraan di belakang mobilku terus-menerus bersahut-sahutan. Isyarat bahwa tak sabar dengan kemacetan ini.
"Aku heran apa yang membuat jalan tengah malam begini, macet," batinku kembali bergeming.
    Kini jalan mobilKu hanya setapak demi-setapak. Ahh, ini sungguh menjengkelkan. Namun apa boleh buat keadaan telah memaksa diri untuk tetap bersabar. MataKu mulai memperhatikan mobil yang searah denganku. Ia berada tepat di samping kanan.
"Kok setirannya di tengah ya?" TanyaKu dalam hati.
    Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sopiran mobil itu bukan di samping kanan maupun di samping kiri. Melainkan tepat di tengah-tengah jok depannya.
"Ah, mungkin ini mobil antik." TebakKu.
    Arus jalan kini membaik, mobilkupun bisa jalan meski tak begitu kencang. Ini lebih baik dari pada tersendat-sendat seperti 10 menit yang lewat, bikin gerah saja.
    Kembali pandanganKu merayap ke arah kanan. Nampak di sampingKu telah maju sebuah mobil yang tadinya berada dibelakang. Sepertinya arus kanan lebih lancar dari pada arus kiri di mana kini Aku terjebak padanya.
Ini lebih aneh lagi, "Dimana sopirnya ya?"
    Dari samping, Aku memandang mobil yang setengah kaca depannya terbuka itu 'kosong'. Sedang mobilnya terus saja berjalan. Seharusnya disitu ada sopir yang mengendalikan mobilnya. Bukan hanya kosong dari penghuni, bahkan setir nyapun tak ada sama sekali. Tetapi mobil tersebut terus berjalan. Lampunyapun lebih terang dari pada mobil-mobil yang lain. Aku sempat merinding menyaksikan keadaan ini. Dan kini mobilKu kembali terhenti sejenak. Sesaat Aku melirik kembali pada mobil aneh tadi.
Batinku masih penasaran." Gak ada sopir, kok bisa jalan?"
"Waduh!" Aku terkejut.
"Kok bisa sih?"
"Bagaimana Mungkin ini bisa terjadi?" GumamKu keheranan.
    Mobil yang tadi gak ada sopirnya. Ternyata ada kok! Sang Sopir berada tepat di dudukan tengah mobil itu. Begitu santainya ia menggunakan setir dengan sesekali mengepulkan asap rokok pada mulutnya. Ini merupakan pemandangan langka bagiku.   Tapi ya, gak ada yang aneh. Bisa saja di sini banyak mobil modifikasi yang kebetulan lewat. Dan dua mobil tadi di antaranya.
    Tiba lah Aku pada penyebab Kemacetan itu.Aku tak bisa melanjutkan perjalananku. Di depan sana nampak jurang yang amat dalam. Namun di seberang sana ada sambungan jalan. Jalan ini seperti terpotong oleh jurang, bagaimana mungkin Aku bisa melewatinya.
    MobilKu terhenti sesaat, menyaksikan mobil-mobil sekitar yang searah denganku terbang melayang. Aku terpana, kali ini sungguh mengejutkan, tubuhKupun tiba-tiba kaku.
"Apakah ini mimpi." TanyaKu dalam hati.
"Aduhh, ini bukan mimpi." Sakit terasa sesaat ku cubit lengan kananKu
Aku yakin ini bukan mimpi, ini nyata adanya.
"Tiiitttt.....Tiiittt." tiba-tiba menggema kembali klakson di belakangKu. Seolah berteriak lantang membuyarkan lamunan. Aku paham maksud mereka adalah: Cepat jalan!  Tapi bagaimana mungkin Aku bisa jalan. Di depan sana ada jurang yang begitu dalam. Ingin rasanya Aku berbalik arah saja, namun di samping kiri, kanan, depan dan belakang sudah sesak oleh mobil-mobil yang lain. Aku tak mungkin banting stir, karna memang tidak bisa lagi keluar dari kemacetan ini.
    Gas mobilpun ku tarik kembali pelan dan sangat pelan sekali. Mencoba meyakikan diri untuk tetap maju memnuhi desakan mobil di belakangKu yang sudah tak sabaran. Aku masih tak yakin harus melewati jurang itu. Tapi sebelum sampai pada bibir jurang.
    Tiba-tiba mobilku terangkat dengan sendirinya. Akupun melayang jauh di atas permukaan bumi. Di tambah dalamnya jurang yang membentang.
--Dak-dik-duk--
    Detak jantung berdegup kencang semakin tinggi aku melayang bersama mobilku semakit kencang pula ia berdetak. Seolah isyarat ketakutan dari dalam seketika hadir menjelma di dada. Aku mulai menarik napas panjang dan mencoba untuk tetap tenang.  Kurasakan mobilKu saat ini tidaklah terbang. Akan tetapi seperti ada jembatan yang ku jejaki, namun jembatan itu tak nampak oleh mata. Dan Akhirnya akupun sampai di sebrang.
    Sebuah keramaian yang tak kalah dengan sebelumnya.  Lampu berkelap kelip sungguh memperindah pemandangan kali ini. Meskipun keramaian di sini sangat memukau. Namun Jalan raya yang begitu besar dapat memuat lebih banyak mobil hingga ia mampu melegakan kemacetan.
    Simpangan jalan di sini begitu banyak. Arus lalu lintaspun lancar. Entah mengapa, perutku tiba-tiba lapar ketika harumnya bebek panggang menghantui lobang hidung. Sesaat Kulewati rumah makan berhias lampu kelap-kelip di samping jalan. Akupun berhenti dan memarkirkan mobilKu tepat di sebuah lahan parkir yang cukup luas. Anehnya saat Ku keluar dari mobil, seperti ada bau darah yang tak sedap. Semakin ku dekati rumah makan tersebut, semakin dalam bau darah yang menusuk penciuman.
    Astagrfirullah ‘Azim, batinku tiba-tiba terkejut memandang ke dalam sana. Aku mencoba menggosok paksa kedua bola mataKu, seolah tak percaya dengan apa yang terlihat saat ini. Tapi, ini nyata adanya. Sungguh.
    Mereka makan sapi yang masih mentah. Nampak kulit sapi itu belum di masak. Kakinyapun belum dikupas, masih ada sepatu yang membalut kuat. Tidak hanya itu, kepala sapi tersebut masih tergeletak utuh di atas meja. Satu buah meja besar terhampar satu ekor sapi mentah. Dan itu hanya di habiskan oleh satu orang. ‘Satu orang satu meja.’ Dengan lahapnya sapi tersebut di masukkan ke dalam perut. Bahkan mereka memakannya hampir tak berjeda sama sekali.
    Selain itu, darah belepotan dimana-mana membasahi wajah hingga baju mereka. Ku lihat dengan jelas, isi perut sapi mentah yang penuh dengan kotoran di ususnya itu langsung di telan dan di sedot seolah mie raksasa yang lezat.
"Huak,Huak," berkali-kali Aku muntah tak karuan.
    Selera makanku tiba-tiba lenyap hilang terbawa suasana menjijikkan ini. Aku tak tahan lagi, segera mobil Ku nyalakan kembali meninggalkan rumah makan aneh itu.
Di tengah perjalanan, ‘Plak.. plak..’ Bebrapa kali jam tangan Ku hentakkan namun tetap saja tak jalan. Bukannya tak jalan sepenuhnya. Jam masih menunjukkan tepat pukul 09:00 sama ketika Aku menolehnya sesaat memasuki alam yang aneh ini.
    Anehnya lagi, jarum panjangnya terus berputar sedangkan jarum pendeknya diam tak kemana-mana sedikitpun.
"Ah, Aku mulai sadar ini bukan alamKu." Aku merasa sudah terlalu jauh masuk ke alam ini.
"Sebenarnya, alam apakah ini?" GumamKu dalam hati.
    Sejak pertama kali menjadi sopir sampai sekarang hampir 5 tahun sudah berlalu. Perjalanan sudah biasa Ku jalani bahkan seluruh jalan telahKu hafal dengan baik, hingga sampai ke plosok sekalipun. Tapi tempat ini, sungguh baru kali pertama Ku lalui. Entahlah dimana letak jalan pulang, Aku sendiri sudah tak sanggup memikirkannya.  Ditambah jalan raya di sini yang begitu banyak simpangan, kian membuatku terlarut dalam kebingungan tiada tara.
**
    Mata ini tiba-tiba diserang kantuk yang begitu berat. Meski tak tau ada dimana, namun Beruntung Aku masih memiliki mobil tempat bernaung saat ini. Tiba-tiba mata itupun terpejam dan larut dalam keheningan tidur yang panjang.
    Entah berapa lama Aku berlayar dalam mimpi. Sesaat ketika terbangun, tubuhKu menjadi dingin. Sungguh dingin sekali seolah terkurung dalam gumpalan es yang besar, dan dinginnya tiada ampun. Aku menggigil tak karuan, ditambah perut lapar yang sudah menjadi-jadi. Hingga kini tubuhku sudah hampir tak mampu bergerak.
    Aku mulai membuka mata, kulihat sekitar putih sekali. "Apa ini," kataku dalam hati. Ku coba untuk menyentuh kaca depan mobilKu.
"Dingin sekali." Aku tak bisa memandang keluar, kaca itu penuh dengan gumpalan putih. 
‘Apakah ini salju?’ Tanyaku dalam hati.
"Ah, mana mungkin salju turun di kalimantan." UcapKu lagi.
“Tapi, sekarang kan Aku berada di alam yang tak Ku kenal.” Pikirku lagi.
    Aku masih tak percaya, tapi ini bukan mimpi. Benar, salju itu menutup seluruh perawakan mobilKu. Bahkan untuk keluarpun Aku tak bisa. Pintu telah beku bersama bekunya salju, dan Aku terjebak di dalamnya. Aku semakin yakin, bahwa ini bukan alamKu.
"Terus, alam apa ini? Kenapa Aku bisa tersesat hingga sejauh ini."
    Aku tak menyerah, pintu mobil terus Ku buka sekuat tenaga. Mesin mulaiKu hidupkan dan gas terus ku injak-injak sekuat tenaga. Dan akhirnya, sedikit demi sedikit gumpalan itu mulai retak hingga Aku mobilKu terlepas darinya.
    Ku lirik jam tangan-Ku tetap saja sama. Jarum panjang terus berputar, sedang jarum pendek tetap pada pukul 09:00. Padahal jam tangan ini sejak kemaren masih normal. Entah lah.
    Aku penasaran dengan butiran salju yang tadi membelut mobilKu. Bahkan kaca depan mobil masih nampak tetap tertutup olehnya. Segera Pintu mobil akhirnya kini bisa Ku buka. Setelah keluar, Ku lihat malam masih begitu gelap, hanya ada lampu-lampu hias yang bergema mengisi kesunyian.
    Ku lihat tak nampak ada hujan salju di sini. Sunyi sepi seolah tak berpenghuni sama sekali. Anehnya,dari mana salju itu datang dan menggumpali mobilKu. Ah, pikiran ini makin rancu rasanya.
    Aku kembali masuk mobil dan menjalankannya entah ke arah mana aku harus pergi. Berharap sebentar lagi kan Ku temukan jalan keluar untuk kembali ke alamku. Alam dunia. Rindu keluargapun mulai menyelimuti batin di jiwaKu.
    Sejatinya keadaan sekitar kini benar-benar telah sunyi. Berbeda dengan yang Ku lewati sebelumnya. Lampu hias yang indah tiada lagi kini. Nampak hanya pepohonan besar menjulang tinggi di samping jalan. Pohon itu nyaris setinggi hotel bintang sepuluh. Selain itu, tumbuhnya tak cuma satu, hampir disepanjang jalan ia berjenjer bagaikan tentara sedang latihan angkat senjata. Karna suasana di sini sepi, mobilpun Ku lajukan kembali dengan kencangnya, meninggalkan kelap-kelip perhiasan kota. Tiba-tiba ada segumpal cahaya putih. Jauh di ujung jalan, mataKu seketika tertuju padanya.
"Apa, kah itu jalan keluar." GumamKu dalam hati, sambil terus mengencangkan laju mobilKu.
    Dan kini cahaya itu sudah semakin dekat, Aku sudah tak sabar memasukinya.  Lalu Aku berhenti tepat di depannya. Dalam hati terbesit keraguan.
"Cahaya itu pintu keluar atau bukan?"
"Kalau di balik cahaya itu ada jurang yang dalam, gimana?" GumamKu gelisah.
    Mobilpun, Ku parkirkan tak jauh dari sumber cahaya itu. Pancaran putihnya begitu tajam namun entah kenapa ia tak sedikitpun menyilaukan mataKu. Dengan perlahan Ku langkahkan tubuh ini bersama dua kaki yang telah lemah karna lapar.
    Aku terus melangkah semakin dekat, semakin penasaran pula, ada apa di sana. Cahaya yang membentuk seperti lobang besar dan menyimpan misteri di balik dirinya.  Kegelapan malam membuatnya kian nampak berbinar. Bingung mulai menghantuiKu, dari mana asal cahaya ini..
"Harus kemana lagi, berharap semoga cahaya inilah lorong waktu yang bisa membawaKu pulang." UcapKu dalam hati.
**
    Tiba-tiba belum sempat tersentuh cahaya itu dengan ragaKu, tubuh ini seketika serasa ditarik oleh angin. Lobang itulah sumber tarikannya.
    Eehh,, Aku mencoba berbalik arah, berusaha untuk menahan tarikannya. Namun semakin Aku menahan semakin besar pula daya tarik tersebut. Tapi Aku takkan menyerah. Aku terus mencoba untuk berlari, namun mengangkat sebelah kakipun kini tak sanggup lagi. BatinKu mulai goyah, jiwaKu mulai lemah. Tak ada sesuatu yang bisa kupegang saat ini untuk menahan tarikannya. Hingga iapun semakin menjadi-jadi. Aku merasa cahaya itu berjalan mendekatiKu. Dan ..
**
    Tiba-tiba Aku sudah berada di sebuah alam yang berbeda lagi. Cahaya mentari pagi, berhasil membangunkanKu yang entah sudah berapa lama pingsan di alam asing ini.
    Begitu segar udara di sini, udara yang sangat bersahabat dengan lobang hidung. Semakin dalam napas Ku tarik semakin segar pula lembutnya menyapa paru-paru.
    Pagi yang sangat-sangat cerah, tak terlihat sedikitpun noda hitam di awan. Langit yang bersih bersama biru putihnya yang menyegarkan pandangan mata.
    Burung-burung beraneka warna nampak ceria mengisi pagi. bersama teman-temannya ia berputar-putar meramaikan langit biru yang sedari tadi Kupandangi. Akupun mencoba berdiri, sesaat termenung kembali.
"Dimana Aku." Hati mulai bicara, gelisah.
    Entah lah, Namun sepertinya Aku suka alam ini. Tapi ia tetap begitu asing dalam tatapan mata, Aku yakin ini masih bukan alamku.
**
    Kaki mulai Kujalankan menapaki ruang asing yang menyegarkan. Krikil bebatuan kecil menemani setiap langkahKu. Kicau burung di-sana-sini seolah berteriak memberikan semangatnya tanpa henti. Ini adalah hutan pertama yang pernah Aku kunjungi.
    Ku tak yakin apakah ada kehidupan di sini. Jikalau ada, semoga kehidupannya tak jauh sepeti kehidupan di alamKu. Terlihat sekitar, tiada nampak ke anehan. Aku mulai tenang berada di sini. Kakipun terus melangkah, meski diri tak tau kemana harus pergi.
    Kutemukan aliran sungai yang jernih. Tak seperti di alamKu dulu berwarna coklat. Sedang di sini kusaksikan air yang begitu tenang. Bahkan bebatuan di dalamnyapun terlihat jelas oleh mata. Keadaan ini membuatKu menelan dahaga. Aku mulai mendekatinya. Kuraih bulir air itu dengan menadahkan kedua tangan. Ku angkat tepat ke mulut, dan srrrrr airnya mulai mengalir dalam tenggorokan.
    Aahh,, ia sungguh tak kalah segarnya dengan udara di sekitar. Beberapa kali lagi Ku cebok airnya dengan tangan. Kali ini bukan untuk minum, tapi mengambil air wudhu.
    Meski tak tau kini jam berapa yang jelas pagi telah datang pertanda waktu sholat subuhpun telah lewat. Selesai berwudhu Aku kembali berjalan mencari tempat yang bagus untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
    Akhirnya Ku dapati sebuah batu besar di pinggir sungai. Akupun mulai melaksanakan sholat Qadhaan subuh sampai selesai di atasnya.
**
    Perjalanan kembali Ku lanjutkan, entahlah kemana kaki ini membawa pergi.  Aku berjalan mengikuti arus air yang mengalir. Seandainya ada batang pohon besar, Aku tentu bisa berlayar dengannya. Karna kaki ini terasa sudah begitu lelah.Namun kicau burung yang indah tiada henti menemani dan menyemangati sepanjang perjalananKu.
    Matahari tepat di atas kepala. Bayang-bayang tubuh sudah tegak berdiri pertanda pagi telah berlalu siang telah datang dan aku sudah setengah hari melakukan perjalanan.
    Setiap dahaga mulai merasuk ke dalam tenggorokanKu. Air jernih pun menjadi sasaran pelepas kehausan. Aku yakin kini waktu zuhur telah tiba, Akupun kembali berwudhu dan melaksanakan kewajibanKu.
    Setelah sholat selesai, Aku kembali melangkah menyusuri air yang mengalir. Meski langkahku tak secepat aliran sungai ini namun bersamanya kesunyian lenyap seketika.
    Sesaat perjalanan semakin jauh kaki inipun rasanya tak kuat lagi untuk membawa tubuh. Aku mencari tempat untuk sekadar beristirahat. Tepat di bawah pohon yang rindang. Aku bersandar di batangnya, seraya mengunjurkan kaki melepas lelah yang menjalar.
    Mata mulai lelah berkedip kerindangan serta kesejukan pohon ini bersama udara yang berlalu lembut menyapa, mebuat bola mataku mulai diserang oleh kantuk.
    Mulutpun sudah beberapa kali mengeluarkan angin petanda kantuk yang kian memberat.
Dan...
    Aku pun tertidur, terbawa jauh ke keluar alam sadar. Kini lenyaplah sudah segala kemerduan kicau burung yang mengisi pendengaran. Yang ada hanya ketenangan melepas beban derita.
    Dalam tidur aku bermimpi. Berada di sebuah tempat yang semakin membuatku bingung. “Dimana lagi diriku ini,” gumamku lirih. Tiba-tiba saat itu ribuan orang telah ada di sampingKu. Kami semua berdesak-desakkan saling membawa diri untuk menembus kepadatan.
    Tubuh mereka tidak seperti orang biasa, semuanya memiliki perawakan yang besar lagi tinggi dan kuat. UkuranKu dengan mereka hanya sampai lutut. Tak ayal tubuh kecilKu ini terombang-ambing seolah perahu terkena badai di tengah pantai yang luas. Laksana daun kering diterpa angin topan yang kencang tiada tara.
    Sekuat tenaga Aku mencoba untuk bertahan. Sesekali tubuhKu terhimpit, sakit. Sungguh sakit sekali. Betapa mereka tak peduli dengan tubuh kecilKu yang malang. Semakin Aku mencoba untuk bergerak semakin besar pula desakan itu menghantam.
    Aku sudah tak tahan, jiwa ragaKu pasrahkan pada nasib. Hanya mempertahankan kakiKu agar terus berdiri, sedang tubuh ini terus terbawa oleh dorongan-dorongan para raksasa itu.
    Kini kepalaKu mulai pusing, tubuhKu melemah penuh resah gelisah. Tiba-tiba Akupun terjatuh dan entah mengapa Aku merasa ada yang mengangkat tubuhKu bersamanya. Meski tak begitu sadar namun tubuhKu merasa sebuah tangan memegang erat dan Akupun merasa berada di atas telapak tangannya.
    Ku coba membuka kedua bola mata, ternyata benar. Aku sedang di pangku oleh seseorang yang bertubuh besar dan sangat besar sekali. “Tak tau siapa kah dia? Namun semoga saja dia orang baik.” GumamKu.
    Tiba-tiba seluruh orang-orang besar itu berlari, tidak terkecuali orang yang sedang mengangkatKu bersamanya. Iapun ikut berlari, semuanya berlarian. tubuhKu tergoncang-goncang. Semakin jauh semakin laju pula mereka berlari. Semakin jauh semakin kencang pula langkah kakinya beradu. Laksana sedang ada perlombaan lari di sini dan mereka semua adalah peserta.
    Sesekali aku menjerit tak tahan dengan goncangan dahsyat tubuhKu. Namun jertitanKu terkalahkan oleh gemuruh suara mereka yang kini menggema. Suaranya begitu keras. Aku paham betul, yang ku dengar saat ini tidak hanya suara ratusan orang besar. Tetapi ribuan bahkan jutaan suara kasar yang menghantui lobang telingaKu.
    Ku lirik pada tangan yang sekarang memegang erat tubuhKu. Ternyata dia hanya menggunakan sebelah tangannya saja untuk sekadar mengangkatKu bersamanya.
    Jari-jarinya begitu besar, kokoh dan menyimpan energi yang begitu dahsyat. Satu jarinya saja melebihi besarnya kakiKu. Sekarang aku berada dalam genggamannya.
    Goncangan yang terjadi pada tubuhKu kian menjadi-jadi, kian keras dan kasar. Kecepatan larinya kini melebihi kecepatan seekor kuda tercepat di dunia. Aku mencoba menggerakkan tubuhKu dari genggamannya, namun sia-sia karna jari-jari besarnya terlalu kuat untuk Ku lawan. Aku mencoba melepaskan tanganKu dari genggamannya untuk sekadar menutup telinga yang sudah tak kuat mendengar gemuruh suara kasar itu. Namun tak bisa dan tak mungkin bisa karna genggamannya sangat-sangat kuat.
    Akhirnya Aku pasrah dengan keadaan ini, membiarkan tubuhKu terombang ambing bersamanya. Entah kemana ia membawa tubuh kecil ini. Ku berharap nyawaKu masih tetap di kandung badan.
    Meski tangannya begitu besar namun tetap Kurasakan debur angin menyapaKu bersama kian lajunya langkah orang besar yang sedang menggenggamKu ini.
    Angin yang sangat deras semakin kencang ia berlari semakin deras pula laju angin yang berlalu.
    Tiba-tiba ia mengangkatku lebih tinggi, dan sekarang tubuhku kian jauh dari hamparan tanah. Ia pun mempercepat lagi larinya, cepat dan cepat serta semakin cepat. Dan kini ia mencoba mengayunkan tangan kanannya yang sedang menggenggamku. Dan brrrrr. . . . ia melemparkan tubuhku dengan lemparan yang begitu keras.
    Aaaaa . . . . .  Aku berteriak histeris penuh kegirangan, seketika tubuhku melayang di udara. Melayang dan terus melayang jauh hingga ratusankilo meter.
    Tubuhku terguncang dahsyat sesaat terbangun dari mimpi burukku. Aku mulai menggosok-gosok kedua mata yang masih tak bisa sepenuhnya terbuka. Jantung berdegup tak karuan, gersangnya mimpi membalutku dalam ketakutan. Akupun menarik panjang napasku membiarkan sesaat tubuh ini mencoba mengusir trauma alam bawah sadar. “Beruntug cuman mimpi.” Gumamku seraya menyapu-nyapu dada.
    Ku lirik sana-sini, sunyi sepi membalut alam yang kini membisu. Aku masih terdampar di sebuah alam asing yang tiada nampak jalan keluar darinya.
    Senja mulai datang bersama tenggelamnya sang mentari. Langit kuning ke merah-merahan mengisi waktu yang berlalu, mengusir siang dengan lembutnya lalu menyambut malam yang sunyi.
    Aku diam terpaku, pada batang pohon kayu bersar yang kini ku sandari. Seraya menyaksikan pergantian hari yang terus bergulir. Tak tau sudah berapa lama Aku di alam ini. Adakah harapan bisa kembali bersama keluarga. Ku harap pintu keluar kan segera ku temukan. “Tapi dimana pintu itu?”  Tiada yang lain selain kerinduan dalam dada ingin kembali ke alam semesta. Itulah yang kudambakan.
    Ditemani oleh sapuan angin malam yang menghantarkan kesenyapan. Sunyi menikam rasa membalut duka lara. Tersiksa Aku dalam kesunyian, tiada siapa-siapa di sini. Hanya dua bola mataku yang masih bersinar di bawah pancaran rembulan.
    Langit adalah atap dan rimbunan daun pohon adalah tempatku berteduh saat ini. tak tau harus kemana lagi membawa diri. Biarlah waktu berlalu dalam masanya. Tiada tujuan yang jelas kemana kaki kan ku langkahkan. Ditambah gelapnya alam membuatku malas tuk beranjak pergi.
    Termenung dalam keheningan. Malam terasa semakin larut sudah. Gelappun kian menjadi-jadi menyelimuti hamparan tanah sekitar. Alam yang bisu, andai saja ada yang bisa ku ajak bicaraa saat ini. Kan ku limpahkan segela yang terjadi. Kan ku tumpahkan kerancuan yang tak pernah ku ingini.
    Kembali waktu menyimpan misteri dalam diri. Kulihat ada sosok aneh mengganggu lamunan panjangku. Makluk itu terus berlarian seolah sedang mengintaiku dengan tajamnya. Sesaat ku lirik ke aragnya, secepat kilat ia lenyap. Sesekali ku lihat bola mata itu bersinar dalam gelap. Sesekali pula ia menghilag entah kemana. Tubuhku mulai dingin menusuk rasa. Ku coba bangun dari sandaranku bersama jantung yang mulai kencang berdetak.
    Makhluk itu tak sendiri, ku lihat ada banyak pasang mata yang sesaat berbinar dalam gelapnya malam. Makhluk itu seperti tak berjalan, tetapi ia melayang di udara yang sunyi. Tubuhku kian dingin, hati sudah tak karuan rasa. Mata itu terus mengintaiku.
    Kian detik Aku merasa makhluk itu kian banyak. Mereka berputar-putar berkeliling membentuk lingkaran. Tubuhku kini semakin dingin, napasku sudah tak terkendali lagi.
    Kini mereka mulai menampakkan mata yang sedari tadi mereka sembunyikan dari penglihatanku. Semua mata itu mengarah padaku. Mata yang tajam penuh kemarahan. Hatiku kian gelisah dalam ketakutan.
“Apa yang harus kulakukan.” Batinku meratap.
    Waktu terus berlalu, semakin banyak pasang mata yang nampak olehku. Hanya berjarak tiga meter dari pohon yang saat iniku tersipu di batangnya.
    Mata putih, bersinar dalam gelapnya alam sekitar. Kian detik mata itu kian mendekat padaku, Aku mencoba bangkit ingin rasanya berlari, namun tiada celah yang dapat ku tembus. Semua mata kini mengelilingiku. Semakin waktu berlalu semakin banyak pula pasang mata itu berjenjer.
    Kini matanya kian mendekat, kian membesar pula kian menyeram dan tiba-tiba . . . . . . .  . . .

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates